Make your own free website on Tripod.com

Ibadah Kita

Pemahaman seseorang tentang ibadah kadangkala terbatas pada kegiatan yang bersifat ritual. Seperti contohnya shalat, puasa, zakat dan sebagainya. Begitu sempitkah arti ibadah ? Bagaimana suatu pekerjaan itu bisa mempunyai nilai ibadah dimata Allah swt ?

Tujuan Penciptaan Manusia

Seseorang yang ditugaskan di suatu pos, tentu ia harus mengetahui, apa sebenarnya tujuan ia ditempatkan di pos tersebut. Demikian pula dengan manusia. Sudah sewajibnya ia tahu apa tujuan Allah menciptakan manusia. Untuk itu mari kita simak ayat berikut : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56).

Kini jelaslah, bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin hanyalah untuk menyembah Allah, beribadah kepada Allah semata.

Makna Ibadah

Secara bahasa ibadah berarti tunduk dan taat. Sedangkan menurut istilah ibadah berarti segala apa yang diridhai Allah dan dicintai-Nya dari apa yang diucapkan dan disembunyikan, baik yang bersifat lahir maupun bathin.

Namun kini ada sebagian orang yang salah dalam memahami arti dari ibadah. Mereka menganggap ibadah hanyalah terbatas pada hal-hal yang tercantum dalam rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Padahal sebenarnya ibadah sendiri tidak mempunyai arti sesempit itu. Sebaliknya rukun Islam inilah yang seharusnya menjadi titik tolak bagi seorang muslim dalam merealisasikan ibadah dalam seluruh aspek kehidupannya.

Muhammad Quthb dalam sebuah bukunya menuliskan : „Perasaan seorang muslim dalam perjalanan mencari rizki, mencari ilmu, mengupayakan kemakmuran bumi dan setiap aktivitas fisik, akal dan jiwanya adalah ibadah. Ibadah yang dilaksanakan dengan keikhlasan yang sama dengan keikhlasan untuk melaksanakan shalat."

Ternyata menuntut ilmu, mendidik & membesarkan anak, bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga, bahkan menyingkirkan duri dari jalanan pun bisa mempunyai nilai ibadah. Tentunya ada syarat-syarat tertentu, hingga sesuatu yang kita kerjakan dinilai Allah sebagai ibadah.

Syarat Diterimanya Ibadah

Tiga syarat yang harus dipenuhi agar satu pekerjaan itu mempunyai nilai ibadah ialah:

1) Lillah,

yaitu niat yang ikhlash hanya untuk mencari keredhaan Allah. Niat yang ikhlash ini timbul dari hati yang bersih.

Rasulullah bersabda : „Bahwasan-nya segala amal perbuatan itu tergantung pada niat, ..." (HR. Bukhari-Muslim).

2) Billah,

yaitu cara pelaksanaan seperti yang diperintahkan Allah dan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Misalnya, kita mecontoh bagaimana Rasulullah shalat, puasa, bersillaturrahiim dan sebagainya.

3) Illallaah,

yaitu dengan tujuan hanya untuk mencari keridhaan Allah semata. Firman Allah : Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. 2:207)

Ketiga syarat tersebut harus terpenuhi secara bersamaan. Jika satu saja syarat tidak terpenuhi, maka tidaklah layak suatu pekerjaan itu dinilai sebagai ibadah. Seperti contoh, seseorang ingin menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas mencari ridha Allah. Namun ternyata ia menempuh cara & jalan pintas yang tidak sesuai dengan syariat. Maka gugurlah nilai ibadah dari usaha menuntut ilmu tersebut.

Takwa Tujuan Ibadah

Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. 2:21)

Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan dari ibadah adalah untuk membentuk insan yang bertakwa. Jika ibadah itu tidak menghasilkan takwa, maka perlu ditinjau kembali kebenaran niat & pelaksanaan ibadah tersebut. Apakah sudah benar ia berniat dengan ikhlash mencari ridho Allah, apakah cara pelaksanaannya sudah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah, dsb.

Hasil Dari Takwa

Seorang muslim yang telah mampu mencapai derajat takwa akan diberi Allah beberapa hal, diantaranya :

1) Furqan,

yaitu pembeda antara yang haq dan yang bathil. „Hai orang- orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan ..." (QS. 8:29).

Banyak orang yang kini melihat sesuatu yang bathil itu seperti yang haq dan sebaliknya sesuatu yang haq itu seperti yang bathil hingga terjadi percampuran antara haq & kebathilan. Disinilah urgensi furqaan, yang dengannya kita dapat membedakan dan melihat dengan jelas bahwa sesuatu yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil.

2) Jalan keluar, rizki dan kemudahan.

„...Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya ... Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. 65:2,3,4).

Misalnya sebuah keluarga berada dalam kesulitan ekonomi. Tiba-tiba secara tidak disangka-sangka keluarga tersebut mendapat hadiah yang dapat mereka gunakan untuk meringankan beban ekonomi tersebut. Inilah rizki yang Allah janjikan bagi orang yang bertakwa.

3) Berkah atau kebaikan yang banyak.

„Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, ..." (QS. 7:96).

Sepiring makanan yang mempunyai berkah akan dapat mengenyangkan sekeluarga. Sebalik-nya, makanan yang tidak mengandung berkah tidak akan dapat mengenyangkan, walaupun hanya satu orang.

4) Ampunan & Surga.

Dan bersegera-lah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yg luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yg bertaqwa,(QS. 3:133)

Selain itu masih banyak lagi hasil dari takwa yang disebutkan dalam Al-Quran. Siapakah yang ingin mendapat anugerah tersebut ? Berusahalah menjadi manusia yang bertakwa dengan jalan taat beribadah kepada-Nya. 

Sumber : Al-Qur’an & Hadits