Make your own free website on Tripod.com

Sepenggal Episode Dari Puing Andalusia

(Bagian 2)

Sore itu tampak peristiwa yang mengerikan di lapangan inkuisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) di gantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimin yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur lima tahunan malam itu masih berdiri tegak di lapangan inkuisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air mata menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ‘ummi’ yang sudah tak bernyawa, sembari menggayut abayanya.

Sang bocah berkata dengan suara parau, „Ummi, Ummi mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah Ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba,ta...?Ummi...cepat pulang ke rumah Ummi....":

Bocah mungil itu akhirnya menangis keras, ketika sang Ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya. Namun ia segera berhenti ketika teringat, kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

„Hei...siapa kamu?" Teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.

„Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..!" jawab sang bocah memohon belas kasih.

„ Hah...siapa namamu bocah coba ulangi!" Bentak salah seorang di antara mereka.

„Saya Ahmad Izzah..." Sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.

Tiba-tiba ‘plak!" sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah,

„Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’...Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi, nanti akan ku bunuh": Ancam laki-laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya ke luar lapangan inkuisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto tersadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh ‘sang ustadz’. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah tanda hitam ia berteriak histeris, „Abi...Abi...."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Pikirannya pun terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, buku kecil yang kini ada dalam genggamannya adalah kitab suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca bapaknya. Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai tanda hitam pada bagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung memeluk erat tubuh renta nan lemah. Lidahnya yang sudah berpuluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, „Abi, aku masih ingat Alif, ba, ta, Abi". Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

‘Sang Ustadz’ segera membuka mata ketika merasa ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar ia masih melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

„Tunjukkan aku pada jalan yang engkau tempuh Abi..." Terdengar suara Roberto memelas.

Sang Ustadz mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan mata. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap „Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudara-saudaramu. Katakan saja bahwa kau kenal dengan Syaikh Abdullah Fatah Ismail Al-Andalusi. Belajarlah engkau di negri itu.

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terkhir dengan berbekal kalimah indah, „Asyhadu anla ilaaha illlallah, wa Muhammad Rasulullah": Beliau menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang  alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam.

Disadur dari Majalah Sabili, 1990.