Make your own free website on Tripod.com


Bukan Sembarang Ibu

(Bagian 1)

„Mengapa engkau berani masuk ke rumahku tengah malam begini, wahai orang tua ?" Begitulah ujar seorang pemuda yang mempunyai sedikit jenggot di dagunya. Tanggannya memegang jubah orang tua tersebut. Orang tua tadi mendorong daun pintu dengan tombaknya hingga terkuak lebar lalu disandarkannya tombaknya dan senjata lain di balik pintu itu. Ia masuk tanpa minta izin terlebih dahulu dari seorang pamuda Rabi’ah namanya, pemilik rumah itu.

Tatkala Rabi'ah melihat laki-laki tua yang belum pernah dikenalinya itu memasuki rumahnya saat ibunya sedang berada sendiri di dalam, tak mampu lagi ia menahan amarahnya. Dengan segera ia hampiri dan ditariknya leher lelaki tersebut dengan sekuat tenaga. Andai lelaki tua itu tidak dengan cepat meronta-ronta mungkin ia mati tercekik.

Pergulatan ini berlangsung di malam gelap gulita. Masing-masing berusaha menolak lawannya agar keluar dari rumah.

Laki-laki tua tadi walau sudah berumur ternyata masih bertubuh tegap dan kuat. Pengalaman dan latihan ketentaraan, sekian kali terlibat dalam peperangan, membuat pergulatan menentang musuh adalah hal yang biasa baginya.

Mulanya pergulatan itu terjadi di depan pintu, tetapi tolak-menolak dan tarik-menarik di antara kedua orang itu menyebabkan keduanya terlempar ke luar rumah. Tetangga-tetangga terdekat terkejut dan mencoba
mengetahui sebab-sebab pertikaian.

Kegelapan malam membutakan semuanya. Tak terlihat apa pun. Yang jelas terdengar hanya suara Rabi'ah. Tak mampu mengendalikan, dengan lantang ia melontarkan kata-kata kemarahannya pada laki-laki tua yang menerobos rumahnya.

Para tetangga terus berdatangan, mereka bergegas ke kuar rumah dan berkumpul di tempat kegaduhan itu.
„Lihat ! Sungguh mengherankan ... seorang laki-laki menerobos masuk ke rumah Rabi'ah, sedangkan ibunya ada di dalam. Apa maksudnya masuk di tengah malam begini ! Demi Allah, seandainya bapak Rabi'ah ada, tentu akan ditikamnya dengan lembing hingga mati !"

„Jahat sekali, laki-laki tua itu tidak cukup menjarah rumah-rumah oralng lain, sekarang ia coba menjarah rumah seorang insan yang sedang pergi menunaikan panggilan agama, yang mengorbankan nyawanya dengan berjihad di jalan Allah ! Laki-laki itu telah mencoreng wajah Rabi'ah, seorang alim yang terhormat."

„Sungguh tak bermoral ! Sudah holangkah hati nurani manusia hingga tega menjarah rumah ulama. Memalukan ! Jika kabar penghinaan atau anak dan istrinya sampai pada bapak Rabi'ah di Khurasan, apa yang akan ia katakan nanti ?"

„Kasihan Abu Abdur Rahman pemilik rumah ini, ia sedang berjihad di medan perang. Sudah dua puluh tahun di sana dan hingga sekarang belum pulang. Pengorbanan yang telah dicurahkan begitu besar, pantaskah laki-laki tua ini menerobos masuk ke rumahnya ?"

Begitulah ramai terdengar para tetangga berkomentar, mengungkapkan ini hati mereka.

Orang-orang yang berkumpul di tempat itu makin bertambah banyak. Tangan mereka membawa obor, yang cahayanya kadang-kadang hampir padam karena masing-masing berdesakan untuk mendekat ke tempat kejadian. Kelap-kelip cahaya obor belum mampu mengusir kegelapan malam, sehingga belum jelas terlihat wajah kedua orang yang bersitegang itu. Beberapa diantara orang-orang yang datang berupaya meleraikan pertikaian, dan dengan cepat menangkap laki-laki tua agar tidak melepaskan diri.

Meskipun keduanya telah dapat dilerai, namun tuding-menuding masih tetap terjadi. Masing-masing berteriak menuduh lawannya mencoba menjarah rumahnya. Orang-orang yang menyaksikan sungguh heran dengan sikap orang tua itu karena begitu gigihnya membuat helah untuk melepaskan diri dari muka pengadilan ! Penjahat seperti ini patutkah dilepaskan begitu saja tanpa hukuman dan balasan atas perbuatan yang telah dilakukannya ?!

Cengkerama tangan orang-orang yang memegangnya semakin kuat karena kuatir laki-laki tua itu akan melepaskan diri di tengah-tengah kegelapan.

Ketika laki-laki tua itu merasakan bahwa sekuat apa pun meronta-ronta ia tidak akan dapat melepaskan diri, ia pun berteriak dengan kuatnya ...

(bersambung)

Sumber :
"Ummun ... Laa Kal Ummahaati" karya Muhammad Hassan