Make your own free website on Tripod.com

Edisi lain | Artikel November 1997


Menyambut Kedatangan Suami

" Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya" (Qs. 30 : 21)

Sebuah rumah tangga merupakan perwujudan dari perpaduan antara laki-laki dan perempuan yang bersifat alami di mana satu sama lain saling membutuhkan. Dibangun berdasarkan ibadah memenuhi sunnah Rosulullah SAW bukan semata-mata kebutuhan biologis yang temporer. Pertumbuhan rumah tangga berdasarkan ibadah tersebut berkembang mulai dari rasa mawaddah dan rahmah menuju rumah tangga sakinah. Kedua insan yang berada di dalamnya akan saling melindungi dengan watak, tabiat dan kepribadian masing-masing. Rumah tangga merupakan perpaduan dari perbedaan kecakapan, kecerdasan, ketrampilan, kemampuan kerja, berfikir dan sebagainya.

Perpaduan antara keduanya merupakan kerja sama dalam mempersamakan kedudukkan dan memisahkan tugas antara suami dan istri, dimana satu sama lain adalah perhiasan bagi masing-masing.

Kelembutan seorang istri baik dalam berbicara maupun dalam sikap hidup, merupakan senjata yang ampuh dalam membina rumah tangga. Sikap ini bisa dimulai dengan bagaimana seharusnya seorang istri menyambut suaminya sehabis bepergian.

Terlintas sepintas masalah ini adalah masalah sepele yang terjadi sepanjang hari, bahkan lebih dari satu kali. Namun sikap menyambut yang baik merupakan suatu gerbang rumah tangga sakinah. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tugas mulia ini, yaitu :

Sambutlah kedatangan suami dengan muka yang manis, air muka yang jernih dan berseri akan memberikan kesejukan dan kedamaian di hati suami. Menghilangkan keletihannya, ketegangan fikirannya dan dapat mengusir kegalauan hatinya setelah di terpa oleh debu-debu jahiliyah di luar rumah.

Tampilah dengan penampilan yang segar dan berhias yang baik. Wanita sholihah adalah wanita yang cantik lahir bathin, yang tercermin dalam sikap hidupnya sehari-hari. Secara fisik darah daging dan tulang belulang bersih dari benda-benda haram, sedangkan bathinnya bersih dari kekotoran kejiwaan karena selalu di cuci dengan rinso samawi.

Islam meletakkan ukuran kecantikan pada jiwa yang tunduk terhadap Allah dan Rosul-Nya, sekalipun Allah meminta jiwanya apalagi cuma sekedar meminjamkan suaminya untuk memperjuangkan tegaknya dienul islam. Lalu bagaimana berhias yang baik ?

Berhias mempercantik diri secara jasmaniah sesuai dengan selera yang di minati oleh suami tanpa melanggar ketentuan Allah terhadap pemakaian alat-alat berhias yang di haramkan seperti cemara, bulu mata palsu, mengikir alis dan gigi, atau operasi plastik. Bagi wanita sholihat tidaklah cukup hanya berhias jasmaniah saja, juga harus menghias bathiniah dengan akhlaq yang mulia. Alangkah bahagianya suami melihat istri dapat menyejukkan hatinya, pada menempatkan diri dalam ketaatan pada suami dengan akhlaqul karimah untuk mendapatkan mardhotillah (ridho Allah). Dikala suami tidak ada di rumah dia dapat menjag amanah harta suaminya walau sekecil apapun, juga terhadap anaknya bahkan terhadap dirinya selaku istri.

" Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. ... " (QS.33:33)

Memberi kabar manis pada suami : siapakah yang tidak mengerti banyaknya problem yang di hadapi wanita sholihat selama berada di rumahnya ? Tetapi dapatkah kita menahan diri untuk menunda memberi tahukan berita buruk pada suami ketika baru saja ia kembali.

Temanilah suami beristirahat dengan cerita-cerita yang indah dan menarik hati agar dada yang sesak dapat lapang kembali, pikiran yang kusut dapat jernih kembali setelah situasi dan kondisi telah normal kembali dan suami telah siap untuk menerima masalah kembali, barulah diceritakan problem yang ada dan didiskusikan pemecahannya.

Menyiapkan makanan. Biasakanlah agar suami dapat menyempatkan diri makan di rumah bersama-sama. Untuk itu wanita sholihat harus cekatan dan menentukan waktu dan menyediakan menu makanan sesuai dengan selera suami. Tidak usah takut gagal, setiap suami akan merasakan kenikmatan dari kelezatan makanan yang dihidangkan dengan bumbu penyedap mawaddah wa rahmah.

Demikianlah beberapa tip yang dapat di coba sebagai langkah persiapan menyambut suami dengan baik. Semoga dapat di rasakan hikmahnya.

" Allah SWT itu indah dan ia mencintai yang indah, murah hati dan menyukai kemurahan hati, menyukai akhlaq-akhlaq yang luhur dan membenci akhlaq yang rendah. "

(Ummi Hanif)