Make your own free website on Tripod.com

Edisi lain | Artikel November 1997


Ummu Habibah binti Abu Shofyan

„Ketika Abu Sofyan berkumjung ke Madinah, ia ke rumah putrinya Ummu Habibah. Saat ia hendak duduk di atas tilam itu. Sang ayah menegur : „Wahai putriku, mengapa kau larang aku duduk di tilam itu?" Ia menjawab: „Maaf tilam ini milik Rasululloh, sedang anda seorang musyrik. Dan saya tidak ingin seorang musyrik duduk di atasnya".

( Ibnu Ishaq dalam Sirah Nabawiyah).

Abi Sofyan pemimpin Quraisy yang perkasa mengawinkan putrinya , Ramlah binti Abi Sofyan dengan Ubaidilah bin Jahasy; anak bibi Rasulullah saudara Ummul Mukminin Zainab ra. Suami istri baru itu langsung masuk Islam.

Keadaan yang semakin mengkhawatirkan di Makkah, membuat suami isteri itu memutuskan untuk berhijrah ke Habsyi. Mereka berangkat dalam rombongan kedua, sedang Ramlah saat itu dalam keadaan hamil. Abu Sofyan sangat marah dan kalap melihat kenyataan itu. Putrinya sendiri mengikuti ajaran Muhammad dan dia tidak mampu mencegahnya. Ramlah melahirkan seorang anak, namanya Habibah binti Ubaidillah. Sehingga sejak saat itu dia dipanggil dengan Ummu Habibah.

Di Habasya, Ummu Habibah menghadapi kenyataan pahit. Dia terbangun pada satu malam karena mimpi yang menakutkan. Dia melihat suaminya berubah menjadi buruk dan mengerikan. Ternyata suaminya tak seberapa lama kemudian berubah dan beralih agama, masuk Nasrani. Kenyataan ini begitu memukul hati dan perasaannya. Suaminya adalah satu-satunya orang yang diharapkan akan memberikan perlindungan dan ketenangan untuknya yang jauh dari negeri sendiri. Bahkan suaminya juga berusaha memaksa dia untuk berpindah agama. Namun Ummu Habibah berhasil bertahan dengan keyakinannya.

Hatinya pedih bercampur kecewa terhadap suaminya. Kalau hanya untuk berpindah agama, kenapa harus jauh-jauh datang ke Habasy. Menyiksa diri dengan perjalanan yang jauh, bahkan harusmenentang ayahnya, meninggalkan kampung halaman nenek moyangnya. Manusia macam apa, yang membuat isterinya harus berkorban, rela meninggalkan ayahnya yang sangat mencintai putrinya. Jika hanya seperti itu, semua yang dilakukan selama ini pecuma. Buat apa ia bersusah payah berhijrah, memerangi agama nenek moyang yang selama ini dianut. Ummu Habibah merasa geram kepada suaminya yang seenaknya mengganti agama dan keyakinannya. Meninggalkan agama nenek moyangnya, masuk Islam dan sekarang murtad masuk Nasrani. Betapa mudahnya berganti agama seperti orang mengganti baju saja, benar-.benar satu hal yang keterlaluan.

Ummu Habibah memandang puterinya trenyuh, iba. Apa salah puterinya sehingga mempunyai ayah murtad? kenapa harus lahir dari keluarga yang kacau.......bapak Nasrani, ibunya seorang muslimah sedang neneknya musyrik musuh utama Islam? Ummu Habibah berdua dengan puterinya menyepi dan menyendiri karena malu akan perbuatan dan tingkah laku suami, ayah puterinya itu. Pintu rumahnya tertutup, tidak mau bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan yang datang dari daerah yang sama.

Beberapa waktu lamanya Ummu Habibah dan puterinya menyembunyikan diri, hingga satu waktu terdengar ketukan dipintu rumahnya. Ternyata seorang utusan raja Najasi menyampaikan surat sambil berkata, „Raja kami menyuruh anda menyiapkan seorang wakil untuk menikahkan anda dengan nabi Arab itu. Sebab raja kami telah menerima permohonan untuk menjadi wakil nabi anda itu......."

Ummu Habibah terkejut mendengar berita itu. Disuruhnya utusan itu untuk mengulang sampai tiga kali. Setelah Ummu Habibah yakin dengan berita itu, betapa hatinya gembira yang tidak terkira. Maka Ummu Habibah mengutus Khalid bin Ash bin Umayyah sebagai wakilnya karena merupakan orang yang tertua dari keluarganya. Sore harinya, Raja Najasi mengundang semua kaum muslimin yang ada di Habasya. Kaum muslimin berduyun datang dengan pimpinan Ja’far bin Abi Thalib serta Khalid bin Ash sebagai wakil Ummu Habibah. Setelah semuanya hadir, raja Najasi berkata lewat seorang penerjemahnya, „ Muhammad bin Abdullah menulis surat permohonan padaku, untuk mengawinkan dirinya dengan Ummu Habibah binti Abi Sofyan. Siapa di antara kalian yang mewakili?" Kaum muslimain menyatakan Khalid bin Ash sebagai wakil Ummu Habibah, Najasi mendatangi Khalid sambil berkata, „Kawinkan kepada Nabi kalian, aku memberi lamaran empat ratus dinar..." Khalid menjawab, „Aku terima apa yang diminta Rasulullah saw dan menerima uang lamaran itu......" Setelah selesai upacara perkawinan itu, raja Najasi menjamu dengan makanan dan minuman sebagaimana yang disunnahkan Rasulullah saw. Sesudah selesai acara walimahan itu, mereka berbondong-bondong menuju rumah Ummu Habibah untuk memberi restu. Sejak saat itu Ummu Habibah resmi menjadi Ummul Mukminin di pengasingan.

Pesta meriah diadakan di Madinah untuk menyambut kedatangan Ummu Habibah binti Abi Sofyan di rumah Rasulullah saw. Pamannya, Utsman bin Affan mengadakan walimahan dengan memotong banyak ternak. Sementara itu, Abi Sofyan mendengar perkawinan itu dengan penuh kekesalan.

Ummu Habibah selalu merasa sedih dan tampak murung. Pertentangan dan permusuhan antara ayah dan suaminya belum juga reda. Inilah yang membuat hatinya resah. Kaum Quraisy adalah sanak familinya, sedang kaum muslimin adalah sahabat dan teman seperjuangan suaminya.

Ketika Abi Sofyan datang ke Madinah untuk menemui Rosulullah untuk minta damai dan keselamatan. Abu Sofyan gentar juga sesampai di Madinah. Tapi dia ingat akan puterinya yang berada di rumah Rasulullah. Dengan sembunyi dia menemui putrinya, mohon untuk jadi perantara. Ummul Mukminin terperanjat melihat kehadiran ayahnya di rumahnya. Dia sudah lama tidak bertemu ayahnya sejak hijrah ke Habasya beberapa tahun yang lalu. Melihat kehadiran ayahnya itu, Ummu Habibah berdiri mematung tak mampu berbuat apa-apa. Melihat itu, Abu Sofyan yang mengerti keadaan puterinya tersenyum memaafkan. Abu sofyan langsung mengambil tempat duduk di ranjang Rosulullah karena Ummu Habibah tidak mempersilahkan ayahnya duduk. Melihat itu secepat kilat Ummu Habibah melommpat menggulung tilam diranjang itu dengan segera sebelum ayahnya sempat duduk di atasnya. Dengan heran Abu Sofyan bertanya, „Putriku...kau lipat itu karena aku tak boleh duduk di atasnya?" Ummu Habibah menjawab, „ini tempat Rosulullah. Aku tidak suka ayah duduk di situ sebab ayah seorang musyrik." Mendengar itu, Abu sofyan langsung bangkit berdiri dengan wajah merah padam. Dengan marah berkata, „lihatlah nanti, kau akan bersedih ketika ayah mati". Tanpa menoleh dan berkata apa-apa abu sofyan keluar. Ummu Habibah berdiri kebingungan menghadapi peristiwa itu. Dia berdiri menempel pada tembok, tak mampu menangis lagi hingga Rosulullah datang.

Barulah Ummu Habibah tahu maksud kedatangan ayahnya.Ummu Habibah benar-benar merasakan kesulitan dalam keadaan seperti ini, bagaimana sikap yang tepat darinya. Kemenangan-kemenangan Muhammad dan kaum muslimin berarti kebinasaan ayah dan semua familinya. Akhirnya Ummul Mukminin menyerahkan segalanya pada Allah dan Rasul-Nya. Tapi, ada pertanyaan di hati kecilnya. Dapatkah aku melepaskan diri dari ikatan darah ini? itulah pertanyaan yang mengganggu hatinya. Kesedihan yang bagaimanakah yang akan menimpanya melihat kehancuran kaumnya itu? Apakah dia akan dapat melupakan dari hatinya? tapi akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu dijawabnya sendiri. „Tidak,"...hatinya berkata. „Bukankah kecongkakan mereka sendiri yang menghancurkan?", itulah jawaban yang ditimbulkan di hatinya. Tiba-tiba di tengah kebingungan itu muncul harapan betapapun kecil di hatinya. Apakah tidak mungkin ayahnya akan masuk Islam, sebagaimana tokoh-tokoh penentang sebelumnya? Umar bin Khottab, Mu’awiyah adiknya, Khalid ibn Walid, dan Abul Ash, suami Zainab putri Rosulullah saw dll. Harapan yang mungkin sia-sia, tapi tetap dia pegang untuk menentramkan hatinya yang risau Satu-satunya upaya yang dapat dilakukannya adalah berdoa, memohon kepada Allah swt agar ayah dan seluruh keluarganya masuk Islam. Dengan sikap itu dia menjadi tenang, selalu membaca ayat.ayat yang sekiranya akan dapat membuka hati keluarganya. Hanya itulah yang dapat dilakukan untuk menolong dan menunjukkan bakti pada keluarganya.

Alhamdulillah, Abu sofyan ayahnya Ummu Habibah masuk Islam ketika terjadi Futuh Makkah ( kemenangan Islam ).

Ummu Habibah akhirnya meninggal dengan tenang pada tahun 44 Hijriah dalam usia 60 tahun. Dia dimakamkan di Baqi, dan banyak hadits yang telah diriwayatkan olehnya.

Sumber : „Istri-Istri Nabi saw"