Make your own free website on Tripod.com

Edisi lain | Artikel Desember 1997


Bukan Sembarang Ibu

(Bagian 4)

Air matanya hendak merebak lagi saat terkenang peristiwa-peristiwa yang lampau. Dengan cepat anaknya bertanya :

"Apakah ibu hendak menangis lagi ?"

Ia menyambung kata-katanya :

"Sesungguhnya selama 27 tahun aku di sampingmu, selama itu ibu mendidikku dan tak pernah kulihat setitikpun air matamu tumpah, wajahmu tidak pernah muram, malah senyum manis senantiasa terukir di bibirmu."

"Hari ini aku tak berdaya lagi wahai anakku. Tidak mampu lagi untuk menguasai perasaanku. Setelah kewajibanku tertunai, rasanya kekuatanku habis sudah. Dulu aku berlaku sebagai seorang prajurit. Prajurit yang meniupkan semangat dan azam kepada bapakmu agar ia keluar berjihad dan terus berjihad. Dengan pertolongan Allah aku berhasil menjaga hasratku ini. Sekarang terlaksanalah sudah segala hasratku ...!"

Si ibu tenggelam dalam sedu sedannya. Mukanya dibenamkan ke dada suaminya. Air mata bercucuran membasahi dada sang suami. Suaminya memeluknya dengan penuh rasa kasih sayang.

Rabi’ah tertegun sejenak. Matanya bergerak-gerak berusaha menahan airmata yang hendak mengalir. Dia termangu-mangu di hadapan ibu-bapaknya, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Tidak tahu apa yang harus dikatakan dan kapan haru memulai kata-katanya. Lidahnya terasa kaku, kelu dan membisu. Akhirnya ia pun turut mengalirkan airmata.

Kini ketiga-tiganya mengalirkan air mata. Meski tidak tahu persis untuk apa dan mengapa mereka menangis. Tidak tahu apa yang akan dilakukan selain mencucurkan air mata. Mungkin tangisan ini dapat merekakan gejolak perasaan mereka.

Si anak menanti dengan sabar, sampai tiba saat yang telah untuk menyabarkan ibu bapaknya seperti semula. Dia coba meredakan suasana dengan meminta ibunya untuk pergi tidur. Semoga selepas tidur nanti, saat fajar subuh memancarkan cahayanya, perasaan berkecamuk kembali tenang dan damai.

Tanpa sepatah kata pun, masing-masing menuju ke tempat tidur.

Dengan bantal sebagai alas kepala masing-masing mengira hanya dia yang belum memejamkan mata. Sepatutnya memang tak dapat tidur, karena masih banyak lagi perkara yang perlu diselesaikan sendiri, tanpa campur tangan orang lain. Ketiga-tiganya ingin mencari jawaban dari masalah-masalah yang selama ini menari-nari di fikiran mereka, agar tercapai titik penyelesaian.

Fikiran ibu kembali berputar, mengingat kembali suatu masalah yang telah berlalu. Isak tangisnya telah berhenti berganti dengan sekabaran. Terlintas dalam benaknya, dulu sebelum suaminya berangkat ke medan perang, ia meninggalkan uang sejumlah 30.000 dinar. Mungkin esok hari suaminya akan menanyakan merihal uang tersebut. Bagaimana akan dijawabnya, jika suaminya meminta kembali uang tersebut ? Apakah akan dikatakan bahwa uangnya dicuri orang ? Ya Allah lindungilah, dia belum pernah berbohong ! Atau apakah akan diberitahu bahwa uang itu dijadikan modal perniagaan, tetapi akhirnya habis karena merugi ? Ya Allah lindungilah hambamu ini kare berkata yang tidak benar.

Apakah hendak dikatakan bahwa uang tersebut digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari bagi dirinya dan anaknya itu sampai anaknya meningkat dewasa ? Tidak mungkin uang yang begitu banyak habis dibelanjakan untuk dua anak beranak saja. Lain kalau si bu itu seorang pemboros, yang suka hidup mewah. Kalaupun demikian, tentu suaminya akan bertanya jika disana tiada satu pun barang mewah yang tampak.

Sebenarnya, uang yang sangat banyak itu memang telah habis untuk biaya berguru anaknya. Dihadiahkan uang tersebut sebagai tanda penghormatan terhadap guru-guru yang telah mendidik dan memberi pelajaran anaknya. Jumlah uang yang begitu banyak diberikan dengan harapan agar-guru-guru tersebut dapat mencurahkan seluruh waktu dan perhatian bagi anaknya.

Sudah tentu suaminya tidak akan percaya sama sekali penjelasan ini, uang habis dibelanjakan hanya untuk biaya menuntut ilmu sungguh melewati batas kelaziman. Belum pernah seorang ibu hanya karena memberi pelajaran kepada anaknya terpaksa menghabiskan uang begitu banyak.

Apa yang harus ia lakukan ? Bagaimana ia dapat menjawab nanti bila suaminya menanyakan tentang uang tersebut ? Seribu macam persoalan dan jawaban silih berganti melintas di fikirannya. Terkadang muncul sebuah jawaban, namun ia rasakan jawaban tersebut tidak cukup memuaskan maka ia melupakannya begitu saja.

Begitulah keadannya sepanjang malam. Sungguh mengenaskan, tidak jua mendapat keputusan. Tidak ada buah fikiran yang sesuai yang dapat dijadikan jawahan. Hingga fajar menyingsing dan mu’adzin di masjid mulai mengumandangkan "Allahu Akbar", ia masih belum mendapatkan jawaban !

(bersambung)

Sumber :
"Ummun ... Laa Kal Ummahaati" karya Muhammad Hassan