Make your own free website on Tripod.com
Edisi 2 / III / 1998


Hijrah  Gadis Yang Dibela Allah

Perjanjian Hudaibiyah  yang ditanda tangani Rasulullah saw dan Suhail bin Amr dari fihak Quraisy- memuat diantaranya, perjanjian ekstradisi yang berat sebelah. Rasulullah harus mengembalikan orang-orang yang
datang berhijrah ke Madinah jika tidak diizinkan oleh walinya, tetapi orang Quraisy tidak berkewajiban demikian. Akibatnya Rasulullah terpaksa menolak dan membiarkan  Abu Jandal diseret ayahnya Suhail bin Amr, kembali ke Mekkah. Rasulullah sangat memegang teguh perjanjian.

Ummu Kultsum adalah  seorang gadis yang masuk Islam diusianya yang masih belia. Walau masih muda ia memahami  kelurusan nasihat dan risalah yang disampaikan Rasulullah saw. Dengan ketulusan dan keyakinan ia berbai'at kepada Rasulullah saw. Tetapi keimanannya mendapat ujian pertentangan dan fitnah dari keluarganya sendiri. Ayahnya - Uqbah bin Mu'ayyat, sangat membenci Rasulullah. Uqbah pernah mencoba membunuh Rasulullah saw. Saat itu Uqbah  menginjak leher Rasulullah saw kuat-kuat ketika Rasulullah saw sedang bersujud di Maqam Ibrahim, sehingga membuat Rasulullah saw sukar bernafas. Hal itu bukan sesuatu yang mustahil bisa
terjadi pada diri Ummu Kultsum, dalam usaha mengembalikan gadis itu kepada agama yang sesat.

Siang malam, Ummu Kultsum menahan derita fisik dan mental tanpa pembelaan. Sampai kemudian ia mendengar Rasulullah saw dan para shahabat sedang berada di Hudaibiyah dalam perjalanan haji ke Mekkah. Berita ini menumbuhkan kerinduan dihatinya. Rindu ingin kembali menatap wajah dan mendengar nasihat dari Rasulullah saw, yang membuatnya kuat untuk tetap memeluk dien yang hak.

Kerinduan itu melahirkan ilham baginya. Ia bertekad melarikan diri dan berhijrah ke negeri dimana berkumpul saudara-saudaranya yang beriman. Negeri dimana  ia dapat  beribadah dengan khusyu' kepada Allah swt. Ummu Kultsum tidaklah lupa dengan perjanjian Hudaibiyah, yang akan membuatnya bernasib sama dengan Abu Jandal. Ia juga tahu betul konsekuensi berat yang harus dihadapinya, kedua kakaknya Walid dan `Umarah siap menyeretnya kembali dan menyiksanya lebih dari apa yang diterimanya sekarang.  Tapi karena keyakinan kepada pertolongan Allah dan Rasulullah yang begitu kuat menghujam dada, membulatkan niatnya berhijarah ke Mekkah seorang diri.

Maka disuatu malam nan gelap, disaksikan bintang-bintang dilangit,  Ummu Kultsum mengendap-endap dikegelapan. Menyusuri gurun, menapaki bukit-bukit pasir, menelusuri lembah dan gunung menuju ke Madinah. Saat itu ia bukanlah seorang gadis yang lemah dan cengeng, yang takut pada gelap dan kesendirian, yang tercekam  cemas akan kejahatan manusia atau binatang liar. Karena Allah telah menyalakan bara iman di dadanya, yang menghidupkan semangat dan keberanian serta  meniadakan kelemahan-kelemahan yang merintangi  jalan hijrahnya.

Setiba di Madinah, ia meminta perlindungan kepada Ummu Salamah, istri Rasulullah saw, bersembunyi khawatir diekstradisi kembali ke Mekkah. Rasulullah yang sedang mengunjungi Ummu Salamah sangat terkejut berjumpa
dengan Ummu Kultsum. Beliau pun menjadi bimbang mendengar kisah dari gadis malang itu. Tetapi Janji adalah janji.  Tak lama berselang Walid dan `Umarah datang menuntut Rasulullah saw memenuhi perjanjian Hudaibiyah.  Ummu Kultsum pun mengajukan  pembelaan diri kepada Rasulullah saw, ia berkata:

 „ Ya Rasulullah, saya ini hanya seorang wanita. Wanita itu lemah. Apakah engkau akan mengembalikan saya kepada orang-orang kafir yang akan memfitnah saya dalam menjalankan kewajiban dien yang saya yakini. Dan saya tidak akan sabar lagi dengan  fitnah mereka.“

Rasulullah terdiam, tentunya ini bukan masalah yang mudah. Tidak mungkin Rasulullah mengingkari janji. Tetapi Allah Maha mendengar dan Maha Penyantun,  Allah langsung menjawab dan membela gadis itu, di dalam surat Al-Mumtahanah ayat 10-11.

„Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka: Allah lebih mengetahui keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir…..“

Dengan  gembira Rasulullah saw berkata kepada Ummu Kultsum,  „Demi Allah, engkau tidak datang kemari, melainkan atas dorongan cinta kepada Allah, RasulNya dan Islam. Engkau tidak lari dari Makkah karena mencari suami ataupun tamak dengan harta kekayaan". Kemudian  Rasululloh saw menoleh kepada Walid dan `Umarah, „Allah telah membatalkan perjanjian itu bagi kaum wanita seperti yang sudah kalian dengar sendiri". Mereka
kembali dengan tangan kosong.

Ummu Kultsum telah selamat dengan pembelaan langsung dari Allah swt. Selanjutnya  untuk melindunginya Rasulullah menikahkan dengan Zaid bin Haritsah.

Demikianlah kisah seorang shahabiyah yang telah membuktikan cintanya kepada Allah swt dan Rasulullah saw.  Pengorbanannya di jalan Allah merupakan contoh untuk kaum wanita. Kekurangan, kelemahan dan kesulitan bukanlah alasan untuk  menghindar dari perjuangan membela dienullah.

Kisah itu juga membuktikan bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat bagi orang yang berada dijalanNya.

 
Sumber :Majalah Ummi No 11/VIII tahun 1417H/1997

ISTIQOMAH,KUNCI KEBAHAGIAAN

 Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):

"Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" . Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 41: 30-32)

Salah satu dampak kehidupan modern (baca: materialis ) di jaman sekarang adalah mahalnya harga sebuah kebahagiaan bagi manusia. Banyak orang yang hidupnya bergelimang dengan harta kemewahan, tetapi jauh dengan apa yang namanya kebahagiaan. Akhirnya orang-orang berbondong-bondong lari kepada psikolog/psikiater untuk membeli kebahagiaan berapapun harga yang harus mereka bayar. Indikasi lain, kalau kita membuka majalah atau koran, dari majalah balita sampai majalah manula, maka rubrik yang paling laris adalah ruang Psikologi atau konsultasi Psikologi atau dari hati ke hati, atau apapun namanya, yang jelas pertanyaan yang muncul tidak jauh dari bagaimana memperoleh kebahagiaan.

Akhirnya orang beranggapan seolah-olah orang yang paling berbahagia di dunia ini adalah psikolog/psikiater, karena dagangan merekalah yang paling laris dan paling diminati konsumen masyarakat materialis. Benarkah psikolog/psikiater itu orang yang paling berbahagia? Bruno Bettelheim, seorang Profesor psikiater lulusan Universitas Chicago, pendiri Sonia Shankam Orthogenic School (Sekolah khusus anak-anak penderita gangguan kejiwaan/emosional), tewas bunuh diri dengan menutup kepalanya sendiri dengan plastik. Ironis!

Bagaimana Islam Memandang Kebahagiaan?

Allah swt. mengajarkan kepada ummat Islam suatu do’a yang di dalamnya tercakup permohonan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Firman Allah swt. :

Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a:  "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. (QS. 2:201-202)

Do’a “ sapu jagad “ di atas menunjukkan kepada kita, bahwa arti kebahagiaan seorang Muslim tidaklah terbatas kepada kebahagiaan yang semu di dunia ini saja. Tetapi lebih jauh menjangkau kebahagiaan abadi di akhirat. Konsep ini jelas jauh berbeda dengan konsep kebahagiaan ala masyarakat materialis, yang hanya memandang kebahagiaan dunia semata, itupun hanya dengan kaca mata materi.

Islam dengan tegas mencela orang-orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Dalam suatu riwayat, ketika Rasulullah saw. bersama para sahabat sedang berjalan melewati bangkai kibas yang sudah membusuk, maka beliau saw. bersabda : “Bagaimana pendapatmu semua mengenai bangkai kibas ini, apakah ia hina (tidak berharga sama sekali) bagi pemiliknya? Para sahabat menjawab: “Benar, dan karena hinanya maka mereka buang begitu saja”. Beliau saw bersabda lagi : “Demi Dzat yang jiwaku ada di dalam kekuasaanNya, niscaya dunia ini lebih hina di sisi Allah dari bangkai kibas ini bagi pemiliknya. Andaikan dunia ini di sisi Allah dianggap berharga menyamai selembar sayap nyamuk, tidaklah Ia akan memberi minum kepada orang kafir setenguk airpun dari padanya. (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Firman Allah swt. :
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. 57:20)

Demikianlah Islam memandang kehidupan dunia yang fana ini. Kehidupan yang hanya sementara ini tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal. Sungguh indah ungkapan Rasulullah saw. yang membuat perumpamaan akan dunia ini tidak lebih dari dari seekor bangkai yang busuk, yang sudah dimakan belatung. Jangankan orang mau memakannya, menyentuh atau membauinya saja bisa membuat muntah.

Jelaslah, Islam tidak memandang kebahagian itu hanya sebatas kehidupan dunia semata. Tetapi Islam menjadikan kampung akhirat sebagai tujuan yang hendak dicapai. Insya’Allah, kalau kebahagiaan akhirat yang kita tuju, maka kita pun akan mendapatkan kebahagiaan dunia. Tetapi, kalau kebahagiaan dunia yang kita jadikan  tujuan , maka jangan berharap kebahagiaan akhirat akan didapatkan.

Kebahagiaan dunia, bukan terletak pada harta, tahta (jabatan) atau wanita yang kita cintai. Akan tetapi kebahagiaan itu ada di dalam hati manusia. Hati yang dipenunhi dengan Iman dan Islam, hati yang senantiasa disirami dengan dzikrullah, hati yang senantiasa disinari dengan cahaya Al-Qur’an, hati yang senantiasa dihidupkan dengan Qiyamullail. Dari hati yang seperti inilah akan lahir Hati Yang Hidup, yaitu hati yang dijauhkan dari penyakit-penyakit: syirik, riya’, ujub, dengki, dendam, dan penyakit-penyakit hati lainnya. Itulah hati orang-orang yang memiliki iman yang istiqomah..

Sedangkan hati orang-orang materialis adalah hati yang sakit, bahkan mati. Hati yang gersang dari Nur Cahaya Ilahi, hati yang senantiasa melahirkan sifat frustasi, putus asa, pesimis, syirik, dengki, ujub dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Hati orang kafir adalah hati yang mati, sebagaimana firman Allah swt. :
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. 2:7)

Sedangkan hati orang-orang munafik adalah hati yang berpenyakit. Firman Allah swt. :
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. 2:10)

Orang-orang yang hanya memandang bahwa kehidupan itu hanyalah kehidupan dunia saja, maka mereka itu memiliki wawasan yang sangat sempit. Wawasan hidup yang sempit inilah yang melahirkan sifat-sifat pesimis, mudah putus asa, dan sifat-sifat negatif lainnya. Sebaliknya orang-orang yang istiqomah, yang mengimani kehidupan yang kekal di akhirat , maka merekalah orang-orang yang memiliki wawasan hidup yang luas. Hal ini akan melahirkan sifat optimis dalam memandang kehidupan ini.

Demikianlah, Islam memandang kebahagiaan dari dua dimensi, yaitu kebahagiaan dalam dimensi dunia, yang terletak pada keistiqomahan kita  di dalam mengamalkan ajaran-ajaran Allah swt. dan kebahagiaan dalam dimensi akhirat, yaitu kebahagiaan yang abadi di sisi Allah swt. kebahagiaan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terlintas dalam hati manusia di dunia ini, itulah kebahagiaan penduduk kampung surga.

Istiqomah, Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat.

Firman Allah swt. :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. 41:30)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 46:13-14)

Tiga ayat di atas memberitahukan kepada kita akan urgensi istiqomah dalam kehidupan seorang Muslim, Iman yang istiqomah adalah iman yang lurus tidak berbelok-belok, yang mencakup keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan  dan diwujudkan dengan amal perbuatan . Demikian pentingnya istiqomah dalam kehidupan seorang mukmin, sampai dalam suatu riwayat digambarkan :

Abu Amru bin Abdullah Ats-tsaqafy ra. berkata: Ya, Rasulullah ajarkan kepadaku kalimat yang menyimpulkan pengertiaan Islam, sehingga saya tidak membutuhksn bertanya kepada seorang pün selain engkau. Jawab Nabi saw.: Katakanlah, aku beriman kepada Allah kemudian istiqomahlah. (HR. Muslim).

Ibrah (pelajaran) lain yang bisa diambil dari QS.Fushshilat ayat 30 dan QS. Al-Ahqaaf ayat 13-14 di atas adalah Allah swt. memberitahukan kepada kita tentang ciri-ciri orang yang istiqomah adalah mereka memiliki sifat :

1. Berani (Syaja’ah).

Seorang Muslim wajib memiliki sifat berani, dan harus menjauhkan diri dari sifat pengecut. Syaja’ah adalah keberanian dengan penuh perhitungan. Ia berbeda dengan keberanian tanpa perhitungan. Keberanian tanpa perhitungan disebut nekad. Baik nekad maupun pengecut adalah sifat negatif yang sama sekali tidak dikehendaki tumbuh menjadi penyakit di dalam diri seorang Muslim.

Bisikan pertama malaikat kepada orang-orang yang istiqomah adalah “Alla Takhafu” (janganlah kamu merasa takut). Dengan demikian ciri pertama orang yang istiqomah adalah sifat berani. Di dalam hatinya  telah tertanam kalimat tauhid, kalimat “Laa ilaaha illa Allah”, tidak ada ilah selain Allah, tidak ada yang perlu ditakuti, tidak ada yang perlu dicintai, tidak ada yang perlu ditaati , dan tidak ada  yang perlu disembah kecuali Allah semata. Orang yang istiqomah hanya takut dan bersandar kepada Allah semata.

2. Tenang (Al-Ithmi’nan)

Bisikan kedua malaikat kepada orang-orang yang istiqomah adalah “Walaatahzanuu” (janganlah kamu merasa sedih). Ketiadaan sifat sedih dalam pribadi seorang Muslim, melahirkan sifat tenang (Ithmi’nan). Di dalam sifat tenang inilah terpadu antara sifat shabar dan teguh pendirian.

Sabar, secara garis besar ada dua macam :

Bersemayamnya sifat sabar ini dalam hati seorang Muslim akan melahirkan sifat tenang. Apabila orang tidak sabar, maka ia menjadi bingung, panik, pingsan atau marah-marah. Kemampuannya untuk berfikir tenang akan hilang, sehingga tidak akan dapat memecahkan persoalan yang dihadapinya dengan segera. Akibatnya kerugian yang lebih jauh akan terjadi.

Firman Allah swt.:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang  yang khusyuk. (QS. al-Baqaroh : 45).

3. Optimis (At-Tafaa’ul)

Bisikan malaikat yang ketiga kepada orang-orang yang istiqomah adalah “Wa absyiru bil-jannatil-latii kuntum tu’adun” (Dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu). Janji Allah kepada orang-orang yang istiqomah berupa surga ini melahirkan  sikap optimis pada pribadi mustaqimah ini. Keimanannya yang mantap akan kehidupan yang abadi di kampung akhirat melahirkan sikap optimis dalam mengarungi belantara kehidupan ini, karena tujuan dan harapan hidupnya diserahkan secara total kepada Allah swt. Keimanan yang kokoh kepada hari akhir ini juga akan melahirkan sifat-sifat: disiplin dalam beramal, teguh di dalam pendirian, kuat di dalam tekad, dan sifat-sifat positif lainnya.

Akhirnya kita fahami bersama, bahwa munculnya berbagai penyakit kejiwaan itu disebabkan oleh ketidak-istiqomahan kita didalam menjadikan Islam sebagai metode hidup kita. Atau dengan kata lain, untuk menggapai kebahagiaan yang haqiqi di dunia dan di akhirat, maka satu-satunya jalan adalah dengan beristiqomah dengan al-Islam  secara keseluruhan.
Firman Allah : 2:208

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:208)
 

Di sadur dari majalah Al-Muslimun tahun 1993

Memilihkan Mainan Yang Bermanfaat Untuk Anak

Orang tua hendaknya memilihkan mainan yang bermanfaat bagi anak-anak, karena permainan dapat memberikan dampak pada jiwa anak. Mainan mekanik yang menimbulkan hentakan dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang berusia di bawah lima tahun. Di samping itu, anak-anak pada usia ini akan mudah memecahkan mainannya. Pada anak-anak yang berusia di bawah lima tahun, sebaiknya diberikan mainan yang beroda dan dapat ditarik. Jenis mainan ini akan memberikan perasaan yang positif pada jiwa anak. Dengan menarik roda mainan itu, anak-anak akan merasa bahwa dirinya kuat dan dapat mengemudikannya. Jenis permainan yang lain adalah balok-balok kayu yang mudah disusun sesuai dengan keinginan anak.

Selain itu orang tua khususnya ayah dapat memberikan mainan yang berbentuk hewan jinak sdeperti kucing, kuda, unta, ayam, yang dirancang khusus untuk anak-anak. Hal ini tidak dilarang dalam Islam, karena Rosulullah saw. membiarkan Aisyah r.a. bermain kuda-kudaan yang bersayap dua ketika kecil. Dalam memilihkan mainan yang berbentuk binatang, sebaiknya ayah tidak memilihkan jenis binatang yang bernajis dan jorok, misalnya anjing, tikus dan babi. Hal ini dilakukan agar anak tidak memiliki kecenderungan untuk berinteraksi dengan binatang tersebut.

Ketika memilih mainan, ayah juga tidak boleh mengesampingkan aspek pendidikan. Untuk anak-anak yang berusia 6 tahun, sebaiknya ayah memilih mainan yang bersusun dan dapat dibongkar, sehingga mainan itu dapat membantu mengembangkan daya pikir anak.

Dalam memberikan  mainan, ayah hendaknya memperhatikan minat dan kecenderungan anak, agar jenis mainan yang diberikan akan membawa banyak manfaat. Untuk anak yang suka melompat dan latihan ketangkasan, dapat disediakan tempat tidur yang khusus untuk melompat. Anak yang suka memanjat, dapat disediakan tali yang khusus untuk latihan memanjat, yaitu tali yang banyak buhulnya. Anak yang cenderung membongkar mainannya, dapat disediakan mainan bongkar- pasang. Dengan demikian, anak akan bermain dengan leluasa tanpa mengganggu kegiatan yang lainnya.

Disamping jenis mainan di atas, disarankan ayah dapat menyediakan mainan yang dapat mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan menghitung, pada anak usia sekolah atau prasekolah akhir. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan diri anak menerima ilmu pengetahuan. Jenis mainan yang dapat diberikan adalah mainan yang lebih menitikberatkan pada penyusunan kata, penggabungan, penguraian kata, dan sejenisnya.

Pada akhir masa kanak-kanak, sebaiknya anak diberikan mainan yang berkaitan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Di samping itu, juga dilibatkan dalam kegiatan yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, misalnya mengajak anak memperbaiki pintu jendela, mengganti ban mobil, mengisi air serta ketrampilan montir dan pertukangan yang lainnya. Yang perlu diingat dalammemberikan mainan pada usia ini adalah titik berat tujuan permainan yaitu yang dapat merangsang pengembangan potensi anak dan pemenuhan kebutuhannya.

Dewasa ini jenis mainan elektronik telah “menguasai”, tempat-tempat penjualan mainan anak-anak. Pada tahun 1981 Komputer rumah dan game sudah banyak dimiliki oleh kelurga-kelurga muslim. Mainan ini bertumpu pada kecepatan  perhatian, pikiran, konsentrasi dan kesesuaian antara tangan dan mata. Keistimewaan dari mainan ini adalah bahwa mainan ini dapat dimainkan kapan saja tanpa memerlukan banyak teman. Di samping itu mainan jenis ini harganya tidak terlalu mahal, sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat.

Mainan jenis ini sudah banyak dikenal masyarakat dan memiliki daya tarik yang tinggi di kalangan anak-anak. Banyak anak yang kecanduan akan mainan ini, sehingga banyak menghabiskan waktunya untuk bermain. Di beberapa negara terpaksa dibuat peraturan tentang batas usia yang boleh memainkan mainan ini, karena dampak yang kurang baik darinya. Peraturan itu dikeluarkan guna menjaga anak-anak kecil agar tidak kecanduan memainkan mainan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa permainan memiliki dua dimensi. Pertama, dimensi hiburan, karena permainan dapat mengisi waktu luang anak. Kedua, dimensi kemudharatan, karena mainan dapat mengakibatkan anak kecanduan dan menyia-nyiakan banyak waktu, sehingga dapat menimbulkan dampak yang kurang baik. Salah satu dampak yang mungkin ditimbulkan adalah terabaikannya dimensi pendidikan, misalnya kegiatan sosialisasi dengan lingkungan dan olah raga (fisik).

Cara yang arif untuk mengatasi masalah ini adalah, membiasakan anak melakukan kegiatan secara seimbang, yaitu dengan membatasi waktu bermain dan waktu untuk kegiatan yang lain, semisal belajar. Jika ayah hendak membelikan mainan elektronik, sebaiknya dipilih mainan yang berukuran besar, sehingga tidak memungkinkan anak membawa mainannya dengan bebas. Hendaknya dalam memilihkan mainan harus diperhatikan aspek teknologi dan kebudayaan. Tegasnya, hindarkan anak dari jenis permainan yang tidak mengarah pada proses pendidikan dan hanya menitik beratkan pada aspek hiburan, misalnya pertempuran udara, tank-tank dan tentara, yang sudah tersedia dalam file program komputer. Permainan jenis ini dapat mempersempit waktu anak untuk bersosialisasi dan mengarah pada proses individualisasi. Pilihlah mainan yang dapat dimainkan oleh lebih dari satu orang. Dengan demikian, ayah dapat menyediakan mainan yang menarik bagi anak, dengan tanpa mengurangi kesempatan anak untuk bersosialisasi.*
 

Disadur Dari  Buku : Tanggung Jawab Ayah Terhadap Anak Laki-Laki
Karangan: Adnan Hasan Shalih Baharits.

Bab Wudhu‘ : Mengusap Sepatu Panjang

"Dan dari Bilal ra. Bahwa ia mengatakan: "pernah aku melihat Rasulullah SAW,    mengusap sepatu dan tutup kepala." (H.R.  Ahmad, At-Thabrani dan At-Tarmidzi)

Syarat

Hadist di atas  adalah salah satu dari dalil yang mengizinkan seseorang untuk cukup  mengusap sepatu dsb, tanpa harus membasuh kaki ketika berwudhu', dengan syarat-syarat sbb:

1. Sepatu itu cukup tebal hingga air tidak tembus ke dalam.
2. Tidak terbuat dari bahan yang bening hingga memperlihatkan kaki yang dibungkusnya, sekalipun tebal apalagi tipis.
3. Menutup kaki sampai ke atas mata kaki (yang biasa dibasuh ketika berwudhu')
4. Dipakai sesudah suci dari hadast kecil maupun besar dengan menggunakan air. Jadi tetap belum boleh mengusap sepatu jika pemakaiaannya sesudah tayammum, atau sebelum bersuci dengan air secara sempurna seperti biasa (termasuk membasuh kaki).
5. Sepatu itu harus suci dan tidak terdapat padanya sesuatu yang menghalangi sampainya air kepadanya, seperti tepung dll.

Cara Mengusap

Bagaimana cara mengusapnya? Berwudhu' seperti biasa, hanya setelah mengusap kepala atau telinga anda tak perlu lagi membasuh kaki. Cukup membasahi tangan anda lalu diusapkan minimal pada bagian atas sepatu, asal bisa disebut mengusap. Jika ingin lebih sempurna, usap bagian atas dan bawahnya sekaligus. Tangan kanan mengusap sepatu bagian atas dan tangan kiri mengusap bagian bawah sepatu sambil menebarkan jari-jari telapak tangan.

Waktu Berlaku

Lamanya waktu diperbolehkan tidak membuka sepatu itu hanya sehari semalam bagi orang yang tidak bepergian jauh dan tiga hari tiga malam bagi yang bepergian jauh, terhitung sejak batal wudhu' sesudah memakai
sepatu.

Berdasarkan keterangan di atas maka mengusap sepatu bahkan juga kaus kaki dan kerudung kepala memang boleh, namun bagaimanapun membasuh anggota  wudhu' (kaki) adalah lebih utama jika mungkin.

Yang Membatalkan

Hal-hal yang membatalkan :
1. Terbuka atau tanggalnya sepatu, keduanya atau salah satunya, baik karena rusak  atau berlubang.
2. Habisnya waktu yang diperkenankan.
3. Terjadinya hal-hal yang mewajibkan mandi, seperti jinabat, haid atau nifas

Apabila terjadi salah satu dari tiga perkara tersebut, maka dalam berwudhu' wajib membasuh kaki seperti biasa.
 

Sumber :FIQH  WANITA, karya Ibrahim Muhammad Al-Jamal

Samosa

Bahan untuk isinya:

Haluskan:

Cara utk menyajikan isinya:

Penyajian Kulitnya: