Make your own free website on Tripod.com

Mengambil keputusan Tentang Anak Anda

Banyak orangtua merasa sulit memahami bagaimana cara bertindak terhadap anak mereka karena mereka merasa harus menguasai suatu pengetahuan tertentu yang lazim dimiliki sejumlah kecil pakar yang benar-benar mengetahui apa harus dilakukan dengan anak-anak secara benar. Kebanyakan orangtua bukanlah seorang psikolog anak. Disamping itu, para dokter, pendidik, dan psikolog kadang-kadang juga mempunyai anak yang bermasalah pula.

Beban kurangnya rasa percaya diri tentang apa yang harus dilakukan itulah yang menyulitkan banyak orangtua dalam mengambil keputusan bagaimana cara menangani anak mereka. Dari beberapa pengalaman, banyak orangtua yang memiliki sumber yang cukup namun masih merasa agak bingung, tidak dapat mengambil keputusan, dan merasa bersalah apabila mereka harus menjabarkan program mendidik anak yang sesuai dan menyenangkan. Masalah ini menimbulkan dua macam pola perilaku orangtua yang tidak menjurus ke arah manapun. Yang pertama adalah orangtua tidak akan berbuat apapun selain bereaksi atas`dasar emosi dan dorongan hati. Yang kedua adalah orangtua akan terus menerus mencoba hal-hal baru tanpa memberikan cukup waktu dalam menguji-coba sebuah prosedur sebelum berpindah ke prosedur yang lain. Hal ini sangat menyulitkan evaluasi dari hasil. Bagi beberapa orangtua, setiap hasil yang kurang memberikan wawasan serta jawaban terhadap masalah secara spontan dan segera merupakan tanda ketidakmampuan pribadi.

Menjadi orangtua adalah sesuatu yang harus dipelajari dan jelaslah bahwa sebagian besar di antara kita belajar dari pengalaman. Ada banyak masalah yang tidak dapat dipelajari orangtua kecuali mereka menghadapinya sendiri dalam keluarga. Pada saat-saat demikian, jawaban terhadap masalah demikian seringkali belumlah jelas. Orangtua harus memikirkan, menganalisis, dan berkontemplasi terhadap berbagai masalah serta membuat rencana yang baik dalam memecahkan masalah itu.

Mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan terhadap anak bukanlah hal yang mudah. Sebagai orangtua, secara terus menerus kita dihantui oleh kemungkinan bahwa keputusan yang diambil akan berakibat buruk dalam hubungan orangtua-anak di masa yang akan datang. Sederhananya, kita harus melakukan apa yang menurut kita yang paling baik dengan apa yang kita miliki. Jika kita dibebani oleh perasaan bersalah atau ketidak mampuan tentu saja kita akan mencapai suatu kesimpulan yang "kurang menyakinkan."

Apabila orangtua dalam menghadapi anaknya tidak dapat mengambil keputusan, mereka merasakannya dan hal itu mempengaruhi perasaan aman serta kenyamanan mereka. Pada akhirnya, ada kemungkinan lebih baik orangtua bertindak dengan pasti ketimbang terlalu banyak menimbang-nimbang keputusan yang tepat. Jika kita mengambil keputusan yang salah, hubungan antara kita dan anak-anak kita masih cukup dekat sehingga masih ada kesempatan memperbaiki kesalahan yang dibuat di masa lampau. Kemauan untuk mengambil keputusan itulah, Kendati ada kemungkinan membuat kesalahan, yang memungkinkan orangtua memiliki suatu kepercayaan diri bahwa mereka masih mampu memperbaiki kesalahan.

Orangtua yang tidak dapat mengambil keputusan membuka kesempatan bagi anak yang memiliki sifat manipulatif, sebagaimana lazimnya sifat seorang anak pada satu tahap hidupnya, untuk "mengerjai" orangtuanya dan bahkan menambah stres dalam keluarga. Apabila orangtua sudah mengambil keputusan, anak belajar bahwa orangtua bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya, mau menjalani dan mengambil risiko serta tidak bisa dimanipulasi. Apabila orangtua mau mengakui kesalahan yang mereka
perbuat dan belajar dari kesalahan, mereka menciptakan suasana bagi anak untuk juga mau mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan orangtua.

Disadur dari ĄCara Mendisiplikan Anak Tanpa Merasa Bersalah" karya Harris Clemes, PhD