Make your own free website on Tripod.com

Hindun bt Uthbah ibn Rabi'ah

WANITA PENDENDAM YANG BERTAUBAT

Dia memiliki kecemerlangan dalam mengeluarkan pendapat dan berpikir, fasih bicaranya sekaligus ahli dalam sastra dan syair.

Pada permulaannya dia merupakan musuh yang sengit bagi Islam dan Rasulnya. Namun kemudian dia masuk Islam dan ternyata keislamannya benar-benar bagus. Islam telah mampu meleburkan kegalauan dan dendam kesumatnya, sehingga dia berubah menjadi wanita mukminah yang lurus.

Sebelumnya bapak, paman dan anak pamannya terbunuh di perang Badr sebagai orang-orang kafir. Sehingga hal ini menyalakan bara dendam  di dalam hatinya terhadap kaum Muslimin. Sejak saat itulah ia meniup-niupkan balas dendam di dada orang-orang Quraisy, laki-laki  maupun wanita, dan menuntut balas kematian orang-orang mereka di perang Badr.

Pada waktu perang Uhud, tatkala „Singa Allah", Hamzah bin Abdul-Muthalib,  yang membunuh bapak dan paman Hindun, maju menerjang ke tengah ajang pertempuran dengan gagah berani, maka kedengkian Hindun langsung berkobar-kobar. Dia menyuruh Wahsyi untuk membunuh Hamzah, dan akhirnya benar-benar bisa melaksanakannya ketika pertempuran sedang berkecamuk. Orang-orang yang telah dimakan dendam, berkumpul mengelilingi jasad Hamzah. Hindun yang menjadi pemulanya mulai membelah tubuh Hamzah, mengambil jantungnya dari dadanya, mencabik-cabik kemudian mengunyah-ngunyah.

Inilah sosok Hindun, yang tega berbuat seperti itu, namun kemudian Allah membuka dadanya untuk menerima Islam. Tatkala dia tahu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengampuninya, maka dia mendatangi beliau dan mengucapkan baiat. Dia berkata, „Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memuji Allah yang telah memenangkan agama ini, agar belas kasihmu dapat menyentuhku. Aku datang kepadamu sebagai orang yang beriman dan berbaiat."

Rasulullah benar-benar mengasihinya, yang telah diutus Allah sebagai rahmat bagi semesta alam, seraya berkata, „Kuucapkan selamat datang kepadamu wahai Hindun !"

Hindun berkata, „Demi Allah, di dunia ini tidak ada para penghuni kemah yang lebih kucintai jika mereka membantu selain kemahmu."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, „Hendaklah engkau berbaiat kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah."

Hindun berkata, „Demi Allah, sesungguhnya engkau menetapkan suatu urusan atas kami yang tidak pernah dilakukan seorang laki-laki pun dan kami akan memberikannya kepada engkau."
Beliau berkata, „Dan, janganlah engkau mencuri !"

Hindun berkata, „Demi Alllah, sesungguhnya aku benar-benar pernah mengambil harta Abu Sufyan."
Sementara saat itu, Abu Sufyan, suaminya yang juga hadir di tempat itu berkata, „Apa yang telah lalu itu, maka engkau berhak atas harta itu."

Rasulullah berkata, „Dan, janganlah engkau berzina."

Hindun berkata, „Adakah wanita merdeka yang berzina ?"

Beliau berkata, „Dan, janganlah membunuh anak-anakmu !"

Hindun berkata, „Kami telah mendidik mereka semenjak kecil dan engkau telah membunuh mereka pada perang Badr setelah besar. Engkau lebih tahu tentang diri mereka."

Beliau berkata, „Dan, janganlah mengada-adalan kedustaan antara tangan dan kakimu !"

Hindun berkata, „Demi Allah, sesungguhnya mengada-adakan kedustaan iut benar-benar buruk."

Beliau berkata, „Dan, janganlah mendurhakai dalam hal yang ma’ruf !"

Hindun berkata, „Kami tidak duduk di majlis ini, lalu kami hendak mendurhakai engkau dalam hal yang ma’ruf."

Lalu beliau berkata kepada Umar bin Al-Khaththab, „Baiatlah mereka dan  mintalah ampunan kepada Allah bagi mereka !"

Setelah masuk Islam, Hindun menjadi wanita mukminah yang lurus. Bersama suaminya dia ikut bergabung dalam barisan mujahidin fi sabilillah di perang Yarmuk, mendorong Ali untuk memerangi pasukan Romawi, seraya berkata, „Tebaslah segala tirai dengan pedangmu wahai orang-orang Muslim!"
Hindun meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah putranya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Aisyah Ummul-Mukminin. Hindun meninggal dunia pada masa khalifah Umar bin Al-Khaththab. ***